Posted by: azayaka | December 22, 2004

Keep Ur Eyes

Kemarin, setengah harian aku menghabiskan waktu hanya dengan dua mata. ‘Dua mata’ku yang lain harus masuk bengkel bernama optik untuk diraparasi karena rusak. Ya…selama ini orang mengenalku sebagai “Si Mata Empat”, karena kemanapun dan di manapun aku berada, dapat dipastikan ada sepasang lensa berbingkai menghiasi wajahku, kecuali tentunya ketika tidur, mandi, atau berwudhu.

Kemarin, dengan embel-embel permintaan maaf yang panjang, aku sms ke atasanku di kantor karena terpaksa harus absen. Padahal di kantor ada event cukup besar, presentasi improvement perusahaan2 satu grup dengan perusahaanku. Tapi mau bagaimana lagi. Tanpa kacamata aku tidak berani pergi jauh.

Hampir 18 tahun kacamata menjadi teman setia yang membantuku melihat dunia dengan jelas. Pertama kali aku pakai kacamata waktu kelas 5 SD. Langsung minus 7!! Bukan berarti sebelumnya aku tidak pernah mengeluh mata kurang normal. Ibu sudah beberapa kali membawaku ke dokter puskesmas dan selalu hanya diberikan vitamin mata. Dulu di desaku tidak ada dokter mata. Yang ada hanya dokter umum. Sampai kemudian ada yg nyaranin ke dokter spesialis mata di Semarang. Jaman dulu, pergi ke Semarang tuh kayak pergi ke kota besaaaarr banget. Hehe…maklumlah cah ndeso.

Saraf mataku memang sudah rusak cukup parah.Kalo dinget-inget, aku dulu bandel nggak nurutin kata ibu untuk tidak baca sambil tiduran dan nonton tivi nuthul petis. Tapi salah seorang budeku malah pernah bilang :
“Mata kamu rusak karena dulu keseringan nangis”
“Masak sih bude? Kok saya nggak ingat?”, sergahku nggak yakin.
“Ya nggak ingat, lha wong kamu seringnya nangis pas masih balita.”
Hehe..bude ada-ada aja.
Tapi yang jelas, meski sekarang minus sudah naik jadi 8, aku tetap bersyukur atas nikmat melihat yang diberikan oleh-Nya. Gus Dur yang rabunnya lebih parah dariku saja tidak pernah mengeluh, tetap semangat bertempur, kenapa aku harus kehilangan rasa syukur? Tidak ada alasan bukan? (Maaf Gus, nama Anda saya sebut di sini :D)

Aku tidak ingat persis sudah berapa kali ganti kacamata. Kayaknya sih belum mencapai angka 10. Yang kuingat, kacamata pertamaku sering mengundang komentar orang : “Itu kacamata atau pantat botol?” Saat itu menipiskan lensa mahal harganya.
Pernah waktu main petak umpet dengan teman2 di sekolah, tiba2 sebelah lensa jatuh menggelinding karena baut frame lepas. Karena saking tebalnya, meski sempat membentu tembok, ajaib, lensa tidak pecah ! Tapi akhirnya ruwayat Si Pantat Botol itu berakhir menjelang aku lulus kelas 6 karena kembali terbanting di lantai dan akhirnya pecah. Dengan pertimbangan keamanan, ibu kemudian membelikanku kacamata yang ada rantainya. Komentar orang berganti dari “Pantat Botol” menjadi “Jonny Iskandar”, seorang penyanyi dangdut yang memakai kacamata sejenis yang tenar di era 80-an. Sebel banget deh disamain dengan Jonny Iskandar. Dia kan laki-laki. Mana penyanyi dangdut pula !! Uhh!! Tapi demi melegakan hati ibu, aku bertahan memakai kacamata berantai itu sampai kelas 2 SMP. Aku ganti kacamata lagi karena minus nambah. Meski sudah ada penggantinya, riwayat “Si Jonny Iskandar” tidak berakhir begitu saja. Suatu hari ada seorang kakek tetanggaku ke rumah, minta kacamata yang sudah tidak terpakai, karena siapa tau cocok dengan mata beliau. Ibu memberikan “Si Jonny Iskandar” untuk dicoba, dan ternyata cocok ! Kata kakek itu, pandangannya jadi jelas sekarang. Sejak hari itu “Jonny Iskandar” ganti pemilik.

Kalau ditanya apakah aku ingin bebas dari memakai kacamata? Of course, yes ! Kata dokter mata yang terakhir kutemui, mimus mataku bisa berkurang dengan cara dilaser atau dioperasi. Someday, bila kondisi memungkinkan, Insya Alloh aku akan mencobanya, karena untuk laser atau operasi pasti perlu beberapa hari cuti. Meski temanku sering bilang : Pakai kacamata keren lagi. Tampang jadi kayak orang pinter..bla..bla..Tapi bagiku, mata sehat, bebas dari kacamata adalah satu cita-cita. Jangan ada lagi alasan absen karena kacamata rusak seperti yang kualami kemarin. Keep ikhtiar n keep praying.

Allahumma ‘aafini fii badani, allahumma ‘aafini fii sam’ii, allahumma ‘aafini fii bashorii laailaahailla anta

Allahumma, sehatkanlah badanku, Allahumma, sehatkanlah pendengaranku, Allahumma, sehatkanlah penglihatanku. Amin.

Note :
cah ndeso = anak desa
nuthul petis = istilah bahasa jawa untuk menyebut ‘melihat sesuatu dengan jarak yang sangat dekat’


Responses

  1. …..Mbak….sekarang minus berapa…dah stabil ya…waktu melahirkan anak pertama normal atau operasi. Banyak orang bilang kalau normal minus suka bertambah….jadi minus berapa sekarang.

    Budi


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: