Posted by: azayaka | August 15, 2005

Zero Base

Pagi ini saya baca tulisan seorang teman tentang Prasangka di blognya. Postingan teman ini mengingatkan saya juga tentang sebuah tulisan sejenis di majalah Ummi, membahas tentang Zero Base Dalam Interaksi Sosial. Yang dijadikan acuan dalam tulisan tersebut adalah buku karangan Pak Riawan Amin, The Celestial Management. Berikut adalah kopian tulisan tersebut. Semoga setelah membacanya, kita dapat membersihkan hati kita (lebih bersih lagi) dari prasangka-prasangka.

—————–

Dalam menyikapi sesuatu, kita cenderung berperilaku berdasarkan prasangka (persepsi) kita terhadap sesuatu itu. Padahal tidak selamanya prasangka itu memandu kita bersikap benar. Daripada terperangkap, mengapa tidak mengembangkan prinsip zero base dalam pergaulan?

Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah sebagian besar dari prasangka. Karena sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.” Namun dalam realita interaksi sosial, tak jarang kita mengembangkan prasangka pada seseorang. Adakalanya prasangka positif (baik sangka), tapi kebanyakan adalah prasangka negatif (buruk
sangka) yang menyebabkan jatuhnya korban.

Sebagai contoh, seorang pegawai baru di sebuah perusahaan bisa merasa tidak nyaman dan kurang diterima karena beredar kabar entah darimana ia masuk lewat jalur belakang. Seorang penghuni baru di sebuah kompleks perumahan bisa merasa tidak betah karena sebelumnya berkembang kabar bahwa pemilik rumah adalah orang yang suka menipu
dan memiliki hutang banyak. Atau seseorang diangap jutek dan menyebalkan karena kurang senyum atau kurang perhatian.

Prasangka yang tidak berdasar ini selain merugikan korbannya, tentu saja dapat membawa kerugian pada para penyangkanya. Secara moril, kita telah terlibat dalam persekongkolan membentuk sikap negatif yang membuat seseorang merasa tidak nyaman dalam berinteraksi. Secara materi, bisa saja kita menderita kerugian karena kehilangan kesempatan memperoleh manfaat dari berinteraksi dengannya. Sebab,
seseorang yang pada dirinya telah muncul buruk sangka pada seseorang cenderung membangun benteng bukan jembatan komunikasi dengan orang diburuksangkainya itu. Padahal terentangnya jembatan komunikasilah yang memungkinkan sebuah interaksi sosial dapat saling memberi manfaat.

Melihat kerugian yang bakal muncul, sudah saatnya kita membangun budaya `persepsi nol’ dalam berinteraksi dengan orang lain. A. Riawan Amin, dalam bukunya The Celestial Management menyebutnya sebagai sikap zero base (mulai dari titik nol).

Makna zero base

Dalam buku yang menuturkan pengalamannya membangun budaya perusahaan, CEO Bank Muamalat Indonesia ini menuliskan prinsip zero base sebagai cara pandang atau sikap mental seseorang yang bersih, objektif, apa adanya, tidak ditambah dan tidak dikurangi menyangkut pekerjaan dan lingkungannya. Seseorang dengan sikap mental seperti ini akan memiliki kejernihan hati dan pikiran dalam menghadapi lawan
interaksinya.

Menurut A. Riawan Amin, setidaknya ada empat pemaknaan sikap zero base. Pertama; tidak percaya diri, tidak rendah diri, tapi percaya Allah. Kedua; tidak terikat pada masa lalu, tidak terobsesi pada masa depan. Ketiga; tidak menambah, tidak mengurangi, tapi apa adanya. Keempat; tidak kufur saat miskin, tidak sombong saat kaya.

Dengan kata lain, Riawan ingin menjelaskan bahwa seseorang dengan sikap zero base memiliki ruang yang lebih luas dan terbuka terhadap segala persoalan yang dihadapinya. Dengan cara pandang zero base segala sesuatunya tentu saja selama dalam koridor kemampuan manusia menjadi mungkin. Lebih jauh, dia menukilkan konsep Zero mind dalam tuturan Frank LekanneDefrez & Rene Tissen, penulis buku Zero Space,
sebagai berikut:

Saya berkeliling dan bertanya, “Apakah zero sebuah angka?”
Seseorang menjawab: “Ya, zero adalah sebuah angka.”

“Bila zero adalah sebuah angka, sela saya, maka Anda dapat melakukan segalanya. Mari kita lihat perhitungan ini: 9 X 0 = 0, maka 9 = 0/0.
Jika Anda katakan zero adalah sebuah angka, maka 0/0 = 1. Jadi, 9=0/0=1 dan 9 = 1.”

Kemudian ia menjawab, “Ah, zero bukan sebuah angka. Ini tidak mungkin. 0/0 = 1 adalah tidak mungkin.”

“OK, tidak mungkin tidak apa-apa. Lalu bagaimana dengan 9 x 0 = 0.
Ini berarti 9 = 0/0 dan 10.000 x 0 = 0, maka 10.000 = 0/0. Maka 0/0 = 10.000 dan 0/0 = 9, jadi 9 = 10.000?”

“Cara pandang zero dapat melakukan segalanya. Jika Anda mengatakan zero adalah sebuah angka, tidak mengapa. Jika Anda berkata zero bukan sebuah angka, itu juga OK. Zero adalah segalanya dan segalanya adalah zero. Ini adalah matematika Zen. Karenanya, cara pandang zero menjadi sangat menarik. Jika Anda menjaga cara pandang zero, Anda akan dapat melakukan segalanya.”

Mengadopsi konsep di atas, maka seseorang dengan cara pandang zero akan bertindak, berpikir, membuat pilihan dan memberikan respon dengan mengembalikan segalanya pada akar, pada dasar permasalahan, tulis A. Riawan. Jika seseorang memulai sesuatu dengan menempatkan diri pada titik nol maka tanggapan panca inderanya menjadi jernih dan segala sesuatunya menjadi mungkin.

Implementasi Zero Base dalam insos
Cara pandang seperti ini akan memandu kita untuk berpikir terbuka dalam menghadapi segala sesuatu. Kita akan berpikir bahwa selalu ada jalan untuk setiap kesulitan, masalah atau problem yang dihadapi.
Bukankah tidak ada istilah buntu untuk mereka yang meyakini inna ma’ al u’usri yusroh? Sebab, persoalannya bukan pada kenapa sesuatu (takdir) itu terjadi, tapi bagaimana menghadapi takdir tersebut dengan lebih `nyeni’. Jadi, bukan soal seseorang memiliki kekurangan, tapi bagaimana mengubah atau meminimalisir kekurangan
menjadi sesuatu yang membawa manfaat untuk diri dan lingkungan.

Dalam praktik insos (interaksi social), cara pandang zero base ini akan memberi beberapa benefit, diantaranya:

1.Memandang manusia sebagai individu yang dinamis
Manusia adalah makhluk dinamis yang bisa belajar dari kesalahan untuk kemudian memperbaiki kesalahan. Karena itu, dalam menilai seseorang, kita tidak boleh terjebak hanya pada jejak rekam masa lalunya. Setiap manusia boleh memiliki kesalahan masa lalu, tapi tidak boleh terjebak dalam kesalahannya. Prinsip ini membuat kita bisa memaafkan dan memaklumi kesalahan seseorang selama yang bersangkutan sungguh-sungguh memenuhi syarat bertaubat.

2. Terbebas dari prasangka
Memulai insos dengan prasangka akan membelenggu pikiran kita dengan sejumlah persepsi tentang seseorang yang belum tentu benar. Terlalu berprasangka baik 釦anda data dan informasi akurat dapat menjebak kita pada sifat lalai dan ghurur (terpedaya). Sebaliknya, prasangka buruk pun akan membelenggu kita dengan ketakutan dan kekhawatiran yang tidak berdasar.

3. Menilai apa adanya
Penilaian kita terhadap baik buruknya seseorang bukan didasarkan pada prasangka tapi berdasarkan apa yang kita lihat, kita ketahui dan kita alami saat berinteraksi. Apa adanya dan objektif. Dalam konsep Rasulullah, seseorang dikatakan saling mengenal dengan baik jika telah shalat berjama’ah, bermalam di rumahnya atau melakukan
perjalanan bersama.

4. Berani mengambil sikap
Dengan cara pandang zero, kita tidak takut untuk mengambil sikap terhadap seseorang. Pembelaan atau penolakan, berpihak atau memusuhi bukan didasarkan pada apa kata orang kebanyakan, tapi berdasarkan cara pandang kita yang jernih dan bersih.
Jika benar, kita akan berdiri membelanya meski sejuta orang menghadang. Jika ia salah, kita pun tidak takut untuk menghadapinya meski sendirian. “Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran” (Yunus:36)

5. Berpegang pada standar ilahiyah

Cara pandang zero pada dasarnya cara pandang dengan standar langit. Seseorang diukur dan dinilai bukan berdasarkan keturunannya, hartanya, kedudukannya atau jabatannya tapi berdasarkan kadar relasitasnya dengan Allah swt. Bukankah orang yang paling mulia disisi Allah adalah orang yang paling bertakwa?

6. Mengosongkan diri dari tujuan kotor
“Dan kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal” (Al Hujurat:13). Tujuan berinteraksi adalah untuk saling mengenal, saling memahami, dan saling bekerjasama guna mencapai tujuan suci. Dengan capa pandang ini kita akan mengosongkan hati dan pikiran dari tujuan menyakiti, merusak, memanfaatkannya atau tujuan kotor lainnya. (DSW)

(Sumber : http://www.ummigroup.co.id/ummi/lengkap.php?id=59


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: