Posted by: azayaka | August 19, 2005

Pilihan Terbaik

“..Boleh jadi kalian membenci sesuatu,padahal ia amat baik bagi kalian. Dan boleh jadi kalian mencintai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian.Allah Maha mengetahui kalian tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah 216)

Sejak masih SMP, aku bercita-cita kuliah di jurusan Hubungan Internasional, karena saat itu aku kagum dengan pemikiran Amien Rais, yang juga adalah dosen jurusan tersebut di Universitas Gajahmada.  Karenanya, ketika di tahun akhir SMA ada kesempatan untuk ikut test masuk universitas lewat jalur PMDK, aku keukeuh milih jurusan tersebut.  Pada akhirnya aku sedikit kecewa karena tidak terpilih masuk.  Ketika ikut UMPTN, aku mengisikan jurusan favoritku itu di pilihan pertama. Karena aku ikut IPS, disediakan dua pilihan di formulir pendaftaran. Waktu itu, aku benar-benar gak punya ide untuk mengisi jurusan pilihan kedua, sampai teman kakak  menyarankan jurusan Bahasa & Sastra Jepang, yang sedikitpun tak pernah terlintas dalam benakku untuk memilihnya. Kuturuti sarannya. Dan…ketika hasil UMPTN diumumkan…aku diterima bukan di jurusan pilihan pertama, melainkan di jurusan pilihan kedua! Kecewa? Ya, saat itu aku merasakan kecewa lebih dalam. Dua kali aku gagal . Keluarga menyarankan untuk mengambil jurusan itu, meski tempatnya cukup jauh dari tempat asalku. “Mungkin itu pilihan terbaik dari Allah”, ibuku menasehati. Ya..mungkin ini adalah yang terbaik bagiku. Apalagi setelah melihat teman-temanku banyak yang gagal, tidak lulus UMPTN. Di mana rasa syukurku? Meski tidak masuk jurusan favoritku, tapi aku bisa lulus UMPTN. Itu adalah sebuah anugerah dari-Nya.

Hari-hari pertama di tempat baru, di pinggiran kota Bandung, aku menginap di rumah salah seorang teman pakde. Anak si empunya rumah, perempuan, satu tingkat di atasku, ternyata diterima di universitas dan jurusan yang sama denganku. Tapi aku di S1, dia di D3. Sebuah kebetulan yang menyenangkan . Dia mengucapkan selamat kepadaku karena diterima di S1. Dan dia pun bercerita, kalau sudah dua kali dia berusaha masuk ke jurusan Bahasa & Sastra Jepang lewat UMPTN, dan dua kali juga dia gagal. Karena gagal tahun lalu, dia akhirnya ngambil D1 Bahasa & Sastra Jepang. Tahun ini dia ikut lagi, dan gagal lagi, dan akhirnya masuk D3. Setelah mendengar ceritanya, tak henti-hentinya aku bersyukur dan istighfar telah berburuk sangka kepada-Nya. Apalagi setelah kemudian, dengan modal bahasa Jepang inilah aku ‘hidup’ sampai kini. Allah benar-benar Maha tahu yang terbaik bagi hamba-Nya.


Responses

  1. buh anum ni lulusan mana tho? kok pinggiran kota bandung?….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: