Posted by: azayaka | January 13, 2006

Hukuman Fisik Pada Anak

Miris, sedih, gak habis pikir..kok tega-teganya ya orang tua berlaku demikian terhadap anaknya. Perasaan ini memenuhi benak saya, demi melihat peristiwa kekerasan terhadap anak (child abuse) yang akhir-akhir ini marak terjadi. Ada seorang ibu tega membakar kedua anaknya yang masih balita, Indah (3th) dan Lintar (11 bulan), hingga menyebabkan Indah kecil tak bisa diselamatkan nyawanya, karena luka bakar telah mencapai jaringan otot. Alhamdulillah sang adik, Lintar masih bisa diselamatkan, meski sekarang tubuhnya penuh balutan perban, dan menurut tim dokter perlu waktu 3 bulan untuk penyembuhan. Juga nasib Tia (8th), yang mendapat tamparan di pipi kemudian diseterika tangannya oleh sang bapak, gara-gara dia dicurigai mengambil uang temannya.

EMOSI YANG TAK TERKENDALI sepertinya menjadi pemicu utama orang tua berlaku kekerasan terhadap anaknya. Dalam kasus Indah & Lintar, sang ibu tak kuasa menahan emosinya menghadapi kenyataan suaminya menghambur-hamburkan uang untuk mabuk-mabukan, tak peduli lagi pada pemenuhan keperluan rumah tangga. Sedang pada kasus Tia, sang bapak beralasan berlaku demikian demi menegakkan disiplin pada anaknya. Alih-alih menjadi disiplin, ketika diwawancarai sebuah TV, Tia kecil kini malah menjadi trauma dan benci kepada bapaknya sendiri.

Bicara soal berlaku kekerasan untuk menegakkan disiplin pada anak, kekerasan yang dialami Tia adalah salah satu contoh hukuman fisik dengan dalih untuk membuat si anak jera. Apakah menghukum anak atas kesalahan yang dia lakukan harus dengan cara kekerasan seperti itu? Tadi coba googling, kebetulan nemu artikel ini, dicopy dari Eramuslim.

Hukuman Fisik Bagi Anak, Perlukah?

Eamuslim – Melihat anak berbuat salah, orang tua ataupun guru sering tak kuasa untuk tidak memberikan hukuman badan (fisik) pada si anak. Padahal, hukuman fisik itu belum tentu perlu. Sebab, hukuman macam ini justru sering berdampak buruk. Ada cara lain yang lebih baik dan patut dianut.

Kita masih ingat, pada tahun 1960-an atau 1970-an,masih banyak orang tua yang menghukum anak dengan sabetan gagang kemoceng atau sapu, hanya gara-gara anak memecahkan piring murahan, tidak mau disuruh ke warung atau mengerjakan PR. Atau kalau di sekolah, ada guru yang menghukum anak push up sampai pucat pasi lantaran terlambat datang. Pikir mereka, si anak bakal jera melakukan kesalahan yang sama

Kini, hukuman badan justru sering digugat efektivitasnya oleh kalangan orang tua, para pendidik, maupun psikolog. Hukuman badan ada kalanya memang berdampak positif.
Namun, terbuka pula peluang untuk melahirkan dampak negatif.

Secara filosofis, orang tua merasa bertanggung jawab untuk mendisiplinkan dan menghukum anak demi kebaikan si anak sekarang dan kelak. Bahkan, secara tradisional pun, hukuman badan telah diterima sebagai salah satu metode sangat efektif untuk mengendalikan dan mendisiplinkan anak. Hal ini didukung oleh masyarakat yang percaya bahwa hukuman badan penting untuk mencegah degradasi moral, baik dalam kalangan rumah tangga maupun masyarakat.

Di sekolah, hukuman badan masih sering digunakan. Banyak guru atau para pendidik berpendapat, ketakutan murid pada hukuman fisik akan menambah kekuatan atau kewibawaan guru. Dengan demikian sang murid akan lebih mudah dikendalikan. Namun, ini bukanlah satu-satunya cara untuk mengendalikan murid atau anak.

Ada banyak metode yang bisa dipilih untuk menumbuhkan kepatuhan atau kedisiplinan. Namun, jika semua metode tersebut sudah tidak mempan, hukuman badan bisa dijadikan jalan terakhir untuk menumbuhkan kepatuhan.

Bisa berakibat buruk
——————–

Terhadap hukuman yang diterima, si anak bakal memberikan reaksi aktif atau pasif. Rekasi aktif dapat dilihat saat hukuman berlangsung. Umpamanya, berteriak, mengentak-entakkan kaki, dll. Sedangkan reaksi pasif pada umumnya tidak ditunjukkan di depan orang tuanya. Contohnya, menyalurkan kemarahan kepada adiknya atau pembantu rumah tangganya.

Sebenarnya secara psikologis, manusia mempunyai kapasitas dan kemampuan untuk berbuat baik atau buruk. Hukuman badan mungkin akan mendukung perbaikan perilaku buruk mereka. Jika digunakan secara tepat, hukuman badan akan menjadi cara paling tepat untuk menurunkan atau mengurangi kelakuan yang tidak bisa diterima. Contohnya, acap kali orang tua memberikan hukuman badan bila anak tidak mau melakukan aktivitas tertentu macam membuat PR atau melakukanlatihan-latihan lain.

Dalam kasus ini, hukuman badan dapat merusak keinginan atau motivasi anak untuk mengerjakan aktivitas tersebut. Sehingga aktivitas berikutnya dilakukan karena paksaan atau rasa takut, bukan karena keinginannya sendiri, dan dilaksanakan semata-mata hanya untuk menghindari hukuman.

Pekerjaan yang demikian akan dirasakan anak tidak nikmat. Hukuman fisik, menurut Neil A.S. Summerheil asal AS dalam bukunya A Radical Approach to Children Rearing, merupakan suatu usaha untuk memaksakan kehendak. Walaupun tujuan utamanya untuk menegakkan disiplin anak, tindakan ini dapat berakibat sebaliknya. Anak menjadi frustrasi. Selanjutnya, anak hanya merespons pada tujuan hukuman itu sendiri.

Banyak anak merasa bahwa menerima hukuman badan tidak terhindarkan, sehingga mereka menjadi resisten (kebal) terhadap hukuman tersebut. Hukuman badan tidak membuat mereka melaksanakan suatu aktivitas dengan baik. Sebaliknya, anak akan cenderung membiarkan dirinya dihukum daripada melakukannya.

James Dobson asal Illinois, AS, dalam bukunya Dare to Dicipline menekankan, hukuman badan tidak akan mencegah atau menghentikan anak melakukan tindakan yang salah. Ganjaran fisik ini justru bisa berakibat buruk. Bahkan, dapat mendorong anak untuk meneruskan dan meningkatkan tingkah lakunya yang salah. Riset ahli lain, Leonard D. Eron, menunjukkan hukuman fisik dikhawatirkan malah mendorong anak untuk bertingkah laku agresif.

Celakanya, orang tua sering kali malah bereaksi terhadap agresivitas ini dengan menggunakan cara yang salah, misalnya dengan meningkatkan intensitas serta frekuensi hukuman badan. Tidak heran kalau anak kemudian malah meniru tingkah laku agresif orang tua atau orang dewasa yang menghukumnya. Di sini secara tidak sadar orang tua telah mengajarkan anak untuk berperilaku agresif.

Gunakan hukuman variatif

Hukuman badan secara fisiologis dan psikologis memiliki dampak jangka pendek dan panjang. Efek fisik jangka pendek misalnya luka memar, bengkak, dll. Sedangkan dampak fisik jangka panjang misalnya cacat seumur hidup. Efek psikologis jangka pendek, misalnya merasa marah, sakit hati, jengkel untuk sementara waktu. Dampak ini tentu lebih ringan dibandingkan dengan efek psikologis jangka panjang,seperti merasa dendam yang mungkin sampai bertahun-tahun. Bahkan, Philip Greven dalam bukunya Spare the Child: The Religious Roots of Punishment and the Psychological Impact of Physical Abuse menyatakan, efek psikis jangka panjang itu termasuk disasosiasi bermacam bentuk seperti represi atau amnesia, pikiran terbelah serta kekurangpekaan
perasaan.

Hukuman yang muncul karena orang tua khawatir kehilangan kewibawaan, bukan upaya untuk menunjukkan kasih sayang atau melatih anak agar disiplin pada aturan, akan menimbulkan reaksi negatif. Menurut Neil, anak akan merasa hukuman sebagai lambang kebencian orang tua kepada mereka. “Tidak heran kalau kemudian anak bereaksi negatif,” tegasnya. Arnold Buss seorang psikolog dalam bukunya Man in Perspective mengingatkan, bila hukuman diberikan terlalu sering dan anak merasakan hal ini tidak dapat dihindarkan, anak akan membentuk rasa ketidakberdayaan (sense of helplesness).

Anak tidak belajar apa pun dari hukuman tersebut, tetapi cenderung menerimanya tanpa merasa bersalah. Konsekuensinya, menurut ahli dari Kanada ini, hukuman tidak mempunyai arti apa-apa bagi mereka. Rasa tidak berdaya ini dapat dikurangi dengan menggunakan hukuman yang variatif, tidak monoton. Kondisi bertambah parah apabila anak mempunyai pandangan negatif terhadap dirinya sendiri sehingga anak tidak dapat memisahkan antara perilaku dengan kepribadian mereka yang sebenarnya. Mereka lalu menganggap dirinya memang bukan anak yang baik, tidak lagi memandang bahwa kelakuan mereka yang salah. Akibatnya, anak akan merasa rendah diri. Bila rasa tidak berdaya terhadap rasa rendah diri ini terbentuk, maka anak akan terus memandang diri mereka sebagai anak yang tidak baik. Akibatnya, mereka akan terus berperilaku buruk. Mereka pikir memang begitulah orang lain memandang dirinya.Dalam kasus ini kemungkinan untuk memperbaiki keadaan itu sangat sulit.Tanpa hukuman badanMenurut Debby Campbell, seorang pendidik asal Ottawa, Kanada, dalam bukunya About Dicipline and Punishment, efektivitas hukuman badan lebih tergantung pada metodenya ketimbang frekuensinya. Setiap kali menerima hukuman, memang anak akan jera untuk melakukan kesalahan yang sama. Namun setelah menerima hukuman, pada umumnya anak akan berusaha menarik perhatian orang tuanya untuk memperlihatkan penyesalan mereka atas perbuatan buruknya.

Setelah situasi emosional berakhir, sering kali anak ingin berada dalam pelukan orang tuanya. “Saat ini orang tua harus menyambut dengan pelukan hangat, penuh kasih sayang. Di sini pembicaraan dari hati ke hati antara anak dan orang tua perlu dilakukan,” tambah Dobson. Di sinilah hukuman berdampak positif karena dapat meningkatkan perasaan cinta kasih antara anak dan orang tua. Sebenarnya ada berbagai cara untuk mendidik anak agar mereka menaati suatu aturan atau melaksanakan suatu aktivitas. Tidak perlu harus dengan hukuman badan.

Sekali lagi, hukuman badan harus dipandang sebagai jalan terakhir. Jalan terbaik antara lain dengan memberikan teladan yang baik.Dengan demikian si anak akan mempelajari tentang apa yang boleh dan tidak boleh mereka perbuat. Metode non-hukuman badan bentuk lain adalah metode time out dengan mengisolasi si anak dalam ruangan kurang nyaman baginya selama beberapa menit. Atau, anak diminta mengerjakan sesuatu yang kurang menyenangkan baginya, misalnya membersihkan kamar mandi, menyapu, dilarang menonton TV seharian, dll.

Namun hendaknya anak diberi peringatan sebelum hukuman dilaksanakan. Jika hukuman badan tidak dapat dihindarkan, A.M. Cooke dalam bukunya Family Medical Guide memberikan beberapa saran hukuman badan seperti apa yang patut dilakukan:
– Memukul anak dengan menggunakan telapak tangan terbuka pada pantat, kaki, atau tangan.
– Hukuman diberikan cukup satu kali sehari.
– Jangan memberikan hukuman badan pada anak yang berusia kurang dari 1 tahun.
– Sedapat mungkin hindari hukuman pada saat orang tua sedang pada puncak emosi.
– Hukuman diberikan singkat dan sungguh-sungguh, segera setelah kesalahan dilakukan.
(Suprayetno Wagiman)


Responses

  1. boleh ditulis referensi2nya,,,?
    yang kyk dftar pustaka gt…

  2. Sip..Lumayan susah juga nyari artikel yang isinya cukup detail mengulas contoh2 hukuman yang positif, yg banyak hanya mengulas hukuman ini jangan hukuman itu jangan, tetapi tidak diberikan contoh hukuman yang baik seperti apa


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: