Posted by: azayaka | February 20, 2006

Sopir Itu Lagi??

Jum’at tgl 10 Feb lalu, saya mudik ke Kendal, mengantar ibu untuk suatu keperluan. Travel yang kami pesan menjemput ke Tangerang sekitar jam 18.30-an. Sopir yang menjemput kami rupanya lain dengan yang biasanya menjemput. Dalam perjalanan putar-putar kota Jakarta untuk menjemput penumpang yang lain, saya tangkap kesan : pak sopir kurang enak mengemudikan kendaraan. Jalan mobil terasa goyang. Kecepatan kendaraan yang masuk kategori ngebut, membuat saya berkali-kali mengucap istighfar dan mengingatkan sopir untuk berhati-hati. Saya, ibu serta seorang penumpang wanita kebagian duduk di belakang. Imbas gaya mengemudi pak sopir lebih terasa lagi saat mobil mulai masuk wilayah Indramayu.

Jalur Pantura sepanjang wilayah Indramayu hampir sebagian rusak akibat banjir besar bulan lalu. Jalan menjadi berlubang di sana-sini. Meski kondisi jalan seperti itu, pak sopir seperti tak peduli, tancap gas terus, hingga kami bertiga yang duduk di belakang beberapa kali terlontar ke atas. Saya, yang biasanya bisa tidur lelap di perjalanan, kali ini terpaksa harus memicingkan mata. Setelah berlalu dari jalan berlubang, baru saya bisa tidur. Itupun tetap beberapa kali terlonjak bangun, demi merasakan pak sopir mengerem mendadak atau tiba-tiba banting stir ke kiri, menghindari tubrukan dengan mobil dari arah berlawanan.

Tiba di Kendal Sabtu pagi, menunggu ibu menyelesaikan urusannya, menginap semalam, Ahad malam saya dan ibu harus kembali pulang ke Tangerang, karena Senin paginya saya masuk kerja. Untuk pulang, kembali kami memesan travel dari biro yang sama. Saat Ahad pagi menelpon ke biro untuk booking, sengaja saya berpesan ke mbak bagian pemesanan, supaya dipilihkan sopir yang lain, jangan orang yang sama ketika saya berangkat. Kapookk deh dengan gaya ngebutnya. Jawaban yang saya dapat : “Maaf mbak, saya gak bisa memastikan nanti sopirnya siapa, karena tergantung daerah penjemputan. Tapi coba saya usahakan ya.” Jawaban yang kurang melegakan bagi saya. Tapi memang prosedurnya seperti itu. Penumpang tidak bisa memilih sopir yang mana. Pokoknya harus nrimo. Yang bisa saya lakukan kemudian hanya berdo’a dalam hati, semoga tidak dapat sopir yang sama. Pindah ke travel biro lain? Atau naik bis saja? Sempat terlintas ide itu. Tapi waktu yang sempit, membuat kami memilih menggunakan travel langganan kami itu saja.

Begitu adzan Isya’ berkumandang, kami pun segera sholat, kemudian bersiap-siap berangkat. Benar saja, tak lama kemudian travel datang menjemput. Kulihat siapa yang mengumudi. Ohhh….nooo….sopir itu lagi??? Dan di perjalanan kembali ke Tangerang pun kembali saya harus banyak-banyak melek, dan terlonjak bangun demi merasakan pak sopir mengerem mendadak atau tiba-tiba banting stir ke kiri, menghindari tubrukan dengan mobil dari arah berlawanan. Tapi alhamdulillahnya, kali ini kami dapat tempat duduk di tengah, jadi lebih ‘aman’. Dan ternyata, kembali kami sebangku dengan penumpang wanita yang sama ketika berangkat ^_^

PS : Zidane, maafkan Bude ya…gak sempat telpon2 atau mengunjungi Zidane


Responses

  1. Nggak apa2 Bude, Insya Allah lain waktu kita bisa ketemuan:) Pas sabtu ama ahad itu pas Ibu Zidan lagi sakit2nya Bude, harusnya opname tapi RS-nya penuh jadi harus boking dulu (kayak Bude boking travel aja ya:p)zidan juga badannya panas + batuk pilek, tapi Alhamdulilah sekarang udah sehat semua:) Salam kangen buat Bude, muachh….:)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: