Posted by: azayaka | November 27, 2007

Nasib Jadi Orang Indonesia…

Habis baca tulisan mas-didats-yang bentar-lagi-mau-menikah ini,  bahwa :

3. Orang-orang bule bukanlah orang yang pantas diagung-agungkan. Kelakuan banyak orang Indonesia yang mengagung-agungkan orang-orang bule SALAH BESAR! Kita sama-sama manusia kok. Cuma beda warna kulit. Walaupun memang, orang-orang kulit putih cukup disegani di belahan dunia lain, bukan berarti kita ikut segan terhadap mereka. Bersikap biasa aja lah.

4. Kuwait adalah contoh yang bagus bagaimana pemerintah mereka memanjakan rakyatnya sendiri. Sehingga, orang Kuwait bisa menjadi RAJA di negaranya sendiri. Bukan malah menjadi tamu atau suruhan pendatang di negara sendiri.

langsung terpikir oleh saya akan NASIB BAIK para ekspatriat di Indonesia. Lebih sempit lagi, para ekspatriat di tempat kerja saya sekarang, sebuah PMA Jepang. Selain dapet gaji bulanan yang nilainya bisa jadi setara dengan gaji 30 orang operator produksi, mereka juga dapet fasilitas tempat tinggal lumayan mewah. Ada yg memilih tinggal di apartemen, ada juga yg minta disewakan rumah di kompleks perumahan, yang sewa per tahunnya hampir lima puluh jeti! Trus Ada mobil plus sopir yang siap mengantar mereka dan keluarganya kemanapun ingin pergi. Trus perabotan rumah lengkap disediakan oleh perusahaan.

Trus…

Trus…

Ahh…klo ngomongin nasib eskpatriat di Indonesia….jd bikin sakit hati!
Salah siapa klo mereka terlalu dinasib-baikkan di sini yang kelihatan terlalu njomplang dengan orang lokal? Kita balikkan saja pertanyaan ini ke pemerintah yg sudah membuat negeri ini jd surga bagi orang2 itu dan neraka bagi warga negaranya sendiri.


Responses

  1. 😀

    begitulah mas.
    di kuwait, orang2 luar gag digaji lebih dari orang lokal. kecuali bule mungkin.

    pemerintah kuwait bener2 memanjakan rakyatnya. manjadi kuwaiti itu nilai lebihnya banyak banget…

  2. Jd ekspatriat di Kuwait pastinya juga enak kan? Sampe mas Didat betah di sana🙂

    Btw, koreksi dikit. Saya ‘mbak’, lebih tepat lagi ‘bu’, bukan ‘mas’🙂

  3. setuju ama yg no.3 toh mrk juga gak lebih baik dari kita kok, harusnya kita lebih PD

  4. mbak hanum dipanggil mas…ekekeke…hehehe…*ngguyu rada ngakak*

  5. Saya juga di Inggris tidak dapat gaji spesial🙂 sama saja seperti yang lainnya. Orang kita memang banyak yang mudah tersilaukan dengan kulit yang putih, hehe.

    Jadi ingat komentar orang kalau saya saban liburan ke Indonesia, “wahh harry putih banget sekarang ya”.
    Aduh mak, skin-deep amat gitu. Menyedihkan.

    Anyway, soal ekspat di Indo yang dapat gaji besar, saya kira ya sudahlah, itu rejeki mereka mungkin.

    Yang masalah itu kalau mereka sudah dapat semua nikmat tersebut; dan lalu mereka tetap memandang remeh sesama manusia & mengeluh mengenai semua hal. Minta ampun !😀

    Dan itu terjadi, sampai ada sesama ekspat yang juga sebal melihatnya, he he

    Yah, manusia, memang cenderungnya kufur nikmat yah? He he😉

    Anyway, nice blog ! please keep it up yah.

  6. Benar juga ya… Saya turut prihatin dengan Indonesia

  7. Aku tidak menyanjung-nyanjung orang bule, tapi bisa dianalisa saja:
    – gaji orang bule di negeri mereka saja sudah gede, pastilah jika jadi expat di Indo minim gajinya sama/plus dari gajinya dulu dong. Jika tidak mana mau kerja di Indo.

    Jangan khan orang bule, aku sendiri aja juga jengkel ketika Renault Truck Jakarta menawarku dengan Rp. 3 500 000,-/bulan + komisi yang minuskul (lebih kecil dari upil yang menyempil di hidungku) untuk menjual truck-nya di seluruh Indonesia. Padahal harga truknya jauh lebih mahal daripada harga di negara pembuat truk itu. Harga itu sudah aku hitung termasuk harga transport kapal angkutnya.

    Sebaiknya kita lebih baik menghujat para pengusaha, mengapa tidak memakai pekerja
    berlebel dalam negeri, aku rasa banyak orang-orang Indo yang berotak cemerlang berinisiatif tinggi pula. Buktinya, di daerahku sini, dinegeri orang bule banyak mahasiswa tingkat master/doktor, lebih dari 20 gelintir orang. Coba bayaingi saja berapa jumlah orang-orang pintar Indonesia di negeri bule ini?
    Hampir semua mahasiswa itu mendapat bantuan dari negeri orang bule, padahal mereka sudah mendapat beasiswa dari Indo.

    Karena aku sudah lama hidup di negeri orang bule, aku juga merasakan bagaimana kehidupan orang bule itu. Mereka tidak jahat-jahat amat seh! Waktu aku jatuh bangkrut dan miskin, ternyata aku masih bisa hidup. Aku tidak bakal mati jika tidak punya uang untuk pergi ke rumah sakit.
    Bahkan mereka membantuku untuk bangkit berdiri kembali sebagai manusia yang layak.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: